Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
SELAMAT DATANG Di KINGLYZ BLOG

Bayangan Sang Cermin

Kamis, 18 Agustus 2011

ilustrasi
          Berkaca sajalah pada cermin kita, liat wajah kita di sana, tataplah lama, sangat lama, jajaki setiap pori yang menjadi komposisi dari wajah kita. Apa yang kita temukan di sana? Lubang kecil? Coba kita lihat lagi dengan seksama, jangan berkedip, karena ketika kita berkedip akan membuat konsentrasi menjadi buyar. Mengapa tidak boleh buyar? Yah... karena ia kecil kecil dan yang penting dia itu sangat penting

    Intinya, Kebanyakan dari kita hanya menjadi cermin, memberikan sebuah bayangan kepada orang lain, tampa pernah memikirkan atau memperhatikan bagaimana bentuk kita sebenarnya, sikap semacam ini menjadi alasan bagi kita untuk menyikapi problema dengan mengait-ngaitkannya bersama kesalahan orang lain.

         Jika kita gagal, ya gagal. tidak perlu kita hakimi keadaan, evaluasi dulu diri kita. Jangan terlalu memaksa dalam berfikir, dan jangan mencari cari kesalahan seseorang yang menggagalkan kita. berhentilah mengkambing hitam kan subjektif sebagai pebenaran, tapi Mulailah dengan dengan kata kata pantas. Seperti ocehan motivator berkepala plontos, “uji lah kepantasan anda, apakah anda pantas atau apakah anda telah memantaskan diri anda untuk berhasil” dan itu benar.

        Berbagai pemikiran negative sebenarnya punya andil besar disini, merasa tidak dihargai ketika kita merasa sudah berjaung dengan gigih dan tulus, terkadang usaha usaha seperti “Ngambil muka” juga telah dilakukan, berharap mendapat simpati, tampa mempertimbangkan standar kepintaran seorang sutradara dalam menyikapi acting lama yang coba kita tampilkan dengan maksimal.

      Cermin tidak dapat berkaca kepada cermin, karena itu jangan mutlak menjadi sebuah cermin, jika ditelisik lebih dalam lagi, cermin itu hanya memberitahu bagai mana orang lain tampa pernah melihat bagaimana ia sebenarnya. Jadilah cerminan, cerminan di sini maksudnya seseorang yang beda, pantas ditiru. Bangkit dari kegagalan, bijak dalam menyikapi keadaan.

       Kesimpulannya, ketika kita dikalahkan oleh arogansi diri yang selalu melihat dari sudut pandang ketidakadilan, sesungguhnya kita telah terkalahkan. Dan ketika jati diri yang bangkit disaat kalah dalam menuntut sebuah keharusan, maka itulah etos kerja terburuk. Namun jika seseorang akrab dengan istilah “evaluasi diri” baik itu dari diri sendiri maupun orang lain, maka ia telah mampu menjadi cerminan setiap cermin. @kinglyz