Jarum jam sudah menyentuh angka 3 lewat 20, para DPH (Dewan Pengurus Harian) dibantu pantia pelaksana tampak sibuk dengan berbagai persiapan keberangkatan, mulai dari bus, keuangan, perbekalan setra perlengkapan kesehatan. Canda tawa seperti biasa terus saja diselipkan dalam berbagi kesibukan itu, membuat semua terlihat begitu mudah. Setelah semua persiapan rampung, Kru dan RJ (reporter junior) rehat sejanak menunggu anggota lainnya yang belum datang. Sebagian dari mereka menonton televisi dan sebagian lagi tampak asik “berkicau” dijejaring sosial.
Perjalanan ini merupakan sebuah agenda tahunan yang kami laksanakan dalam membina generasi baru untuk menjadi wartawan handal. dengan mengunjungi LPM (lembaga pers mahasiswa) dan media media lokal di luar wilayah sumbar, terbersit sebuah harapan dari semua Kru dan RJ untuk mendapat pengalaman dan pengetahuan lebih sehingga dapat diterapkan dengan maksimal di “kawah candradimuka” kami yaitu UNP. Nanggroe Aceh Darussalam sengaja dipilih sebagai tujuan kami. Jika berorientasi pada manfaat yang akan kami peroleh sekaligus ketersediaan lahan jurnalistik, Aceh adalah tepat yang tepat untuk menempa semangat baru para RJ dalam berburu tulisan.
Berbagi pertanyaan mulai menggantung di atas kepala masing masing kru dan RJ, seperti apa jurnalis disana? Seberapa kuat mereka? Apa saja yang ada di sana? Dan mungkin banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tidak sabar untuk dibuktikan kebenaranya. Setelah lama menunggu akhirnya semua Kru dan RJ yang akan berangkat telah berkumpul di Sekretariat. Layaknya sebuah gudang penyimpanan barang, “rumah” kami itu telah dipenuhi tumpukan koper serta tas tas berukuran besar. Ada juga Kru dan RJ yang membawa Barang-barang pribadi sebagai pelengakap perjalanan, mulai dari bantal kesayangan, boneka kesayangan dan laptop. Setengah jam berselang pemimpin redaksi yang sedari tadi tampak sibuk mulai mengajak kru dan RJ menuju mobil Sumbangan Presiden Ri Tahun 2005 no. 04 yang telah menunggu di depan Rektorat Lama.
Perasaan bercampur aduk ketika mengetahui beberapa Kru ternyata tidak bisa ikut berangkat, ini dikarenakan sulitnya mendapatkan izin dari dosen dan sekolah bagi mereka yang melakukan PL (Praktek lapangan). Namun itu tidak menyurutkan semangat kami, akhirnya kami berangkat dengan 23 orang yang terdiri dari 7 orang Kru dan 16 RJ. Lambaian tangan mereka yang tinggal seperti menumpangkan tanggung jawab berat nan harus diemban oleh kami 7 orang kru, sekitar pukul 17.00 wib dengan perlahan kami mulai meninggalkan kota bengkuang.
bus berkapasitas 49 tempat duduk itu terasa “sempit” saja dikarenakan sedikitnya jumlah kami yang pergi, pada situasi ini dituntut sebuah kedewasaan, bagaimana menyikapi hal kecil agar tidak dibesar-besarkan. tidak mau berlarut larut dengan itu semua kami pun mulai merencanakan semua kegiatan yang akan dilakukan didalam bus. Sebagai bentuk antisipasi rasa jenuh yang bisa merusak mood adik adik RJ, panitia dari seksi acara langsung mengambil alih semua kegiatan, mereka mempersiapkan permainan permainan kecil menghibur dan menjalin keakraban antara kru dan RJ.
Beberapa saat setelah magrib rombongan baru menapakan kaki di Padang Panjang, sebelumya kami menyempatkan diri berhenti sejenak untuk menunaikan shalat magrib tepatnya di daerah kayu tanam. kemacetan yang terjadi disepanjang jalan raya padang-bukittinggi memaksa bus harus berjalan pelan, disamping itu supir juga harus berhati-hati karena hujan lebat tampak telah mengguyur kota serambi mekahnya sumbar itu.
Memasuki tengah malam suasana di dalam bus berangsur tenang, “nakama” (Kru dan RJ) mungkin sudah mulai lelah, karena beberapa dari mereka mencoba mencari posisi nyaman untuk beristirahat. Kelucuan juga terjadi disini, banyak dari mereka memperagakan posisi tidur yang aneh, sehingga menjadi objek bagi teman yang iseng untuk mengabadiakannya dalam sebuah foto, ada yang tidur dengan mulut terbuka, ada pula yang tidur sambil duduk dengan kepala terkulai lemah, pokoknya kebiasaan buruk yang selama ini ditutup-tutupi mulai di ketahui oleh masing masing anggota “keluarga”, dan itu akan menjadi dasar kewajiban bagi kami untuk saling memaklumi.
Tidur pun mewarnai perjalanan malam di jalan lintas Trans Sumatra Bukittinggi-Padang Sidempuan. Susahnya tidur di bus mungkin menjadi pengalaman baru bagi beberapa RJ, kadang kita harus berguling kekiri dan kekanan saat bus berbelok, dan tidak jarang pula kita harus menahan badan agar tidak jatuh dari kursi penumpang. Subuh akhirnya muncul di propinsi sumatera utara, entah bagaimana perjalan yang dilalui semalam mungkin hanya dua orang supir dan satu kondektur bus yang tahu. Kami lalu cuci muka dan ada yang mandi kemudian menunaikan ibadah shalat subuh pada sebuah masjid di daerah sumut perbatasan, “kira kira sore kita baru sampai di medan” kata pak supir menjawab pertanyaan salah seorang RJ.
Bus kembali melaju, melewati perkebunan sawit yang begitu luas, sejauh-jauh mata memandang hanya hamparan sawit yang terlihat, mulai dari lahan garapan penduduk sampai kepada lahan yang diolah perusahaan perusahaan besar, jalanan yang dilewati bus kali ini lurus dan lancar, hanya sesekali terlihat truk-truk besar pengankut kelapa sawit dan peti kemas yang sering kami dahului. Di dalam bus lantunan suara merdu bang boy (boy sandy) menjadi pilihan untuk kami dengarkan, selain itu pak supir juga memberikan keleluasaan bagi kami untuk menggonta-ganti lagu sesuai yang diinginkan.
Sepanjang jalan kami di sajikan hal hal yang cukup menarik, berupa rambu rambu keselamatan berkendara menggunakan bahasa yang tidak biasa, seperti hati hati ya pak supir, disini sudah banyak yang kecelakaan, dan aja juga yang beraliran dakwah seperti orang beriman tidak melanggar lampu merah. Jalanan yang lurus dan bebas hambatan mungkin menjadi alasan bagi para supir untuk ngebut, hal ini lah yang mungkin menyebabkan begitu banyak rambu dan himbauan untuk berhati-hati kepada si pengendara.
Memasuki jam 9 pagi hari sabtu (10/9), kami berada disituasi paling tidak menyenangkan, yaitu rasa lapar yang sudah mulai menyerang. Tidak mau lama lama di situasi itu, Pak supir tampa ragu membating Stir kearah kanan memasuki halaman rumah makan Putra Minang di jalan Lintas Kota Pinang Aek Nabara, Pematang Seleng, seperti yang tertera dispanduk depan warung. Pemilik warung tampak antusias sekali dengan kedatangan kami, entah karena kami orang Padang atau mungkin karena kami membawa uang, hanya tuhan yang tahu.
Setelah perut terisi, kami pun melanjutkan perjalanan. Melewati Padang Matinggi menuju medan. Dengan semangat baru kami semua mulai kembali menjalankan kegiatan demi kegiatan di dalam bus, koordinator seksi acara membagi tempat duduk tetap bagi setiap “ nakama”, tempat duduk sengaja di atur demi kebersihan, karena setiap kegiatan didalam bus selalu mendapatkan penilaian dari seksi acara. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan wawancara mengenal lebih dalam tentang kepribadian seseorang, disini RJ bertugas mewawancarai teman sebangku (Kru) untuk mendapatkan informasi pribadinya yang nantinya akan diceritakan didepan semua “nakama”. kegiatan ini bertujuan melatih mental kewartawanan RJ agar mampu membaca setiap karakter narasumber.
Roda bus terus bergulir memasuki kota medan, hari telah kelam, kala itu jam 9 malam ketika hujan berangsur turun, padatnya kegiatan siang tadi membuat tubuh terasa lelah dan mata pun terasa begitu ngantuk, semua kembali mengambil posisi, kami bersiap untuk tidur di Medan dan berharap ketika terbangun nanti telah berada di Aceh, lelah membuat tidur begitu pulas sampai tidak sadar bus telah berhenti lagi di sebuah masjid, bernama masjid Al Kautsar di kecamatan Lhoksukon Kab. Aceh Utara, Aceh. Disana kami mandi dan sarapan, kemudian rapat singkat Panitia Pelaksana .
Minggu (11/9) sekitar pukul 9 pagi kami melanjutkan perjalanan, beberapa hal yang kami temui di jalan mulai menunjukan kekhasan dari negeri Serambi Mekah ini, mulai dari kendaraan angkutan umum yang mereka sebut labi-labi, mesjid mesjid dengan interior timur tengah yang hadir sepanjang jalan, dan kedai kedai kopi yang menjadi ciri khas aceh itu sendiri. Kami sangat antusias, tidak sabar rasanya menyambangi kota yang pernah luluh lantah kerena hantaman Tsunami itu. Akan ada banyak cerita disana dan kami pun mempersiapkan semua pertanyaan untuk mendapatkan jawaban luar biasa demi kepuasan batin kami sebagai penulis.
Siang hari akhirnya kami memasuki banda aceh, bus berjalan membelah ibu kota menuju salah satu universitas ternama disana, tulisan sumbangan presiden RI tahun 2005 yang tertera dengan jelas di kedua sisi badan bus selalu menjadi “primadona”, mulai dari keberangkatan sampai ketika kami berada di aceh, tulisan tersebut selalu menarik perhatian orang di pinggir jalan, mungkin karena tulisan “Presiden”, atau mungkin karena tulisan “Sumbangan”nya, Hanya tuhan yang tahu.
Tempat pertama yang akan kami kunjungi terletak di jalan muhammadiyah No 91, bathoh. Kecamatan leung bata, kota banda aceh. Di sana bernaung sebuah LPM yang menjadi ujung tombak informasi di Universitas Muhammadiyah Aceh. Lembaga tersebut merupakan LPM UNMUHA yang menerbitkan tabloid dengan nama Lensa. Ketika kami telah berada di depan gerbang masuk kampus salah seorang kru lensa tampak datang menjemput, dengan sepeda motor ia memandu supir bus untuk sampai ke UNMUHA.
Satu persatu dari kami turun dari bus, ada perasaan berbeda ketika menginjakan kaki pertama kali di kampus yang telah berdiri kurang lebih 20 tahun itu, didepan kami terhampar gedung dua lantai,pada di atapnya tertulis “UNMUHA” yang sangat besar, namun hujan yang turun berkepanjangan mengakibatkan Drainase kurang berjalan dengan baik, akibatnya terjadi genangan air pada beberapa bagian kampus. Kami yang awalnya memakai sepatu di sarankan oleh kru Lensa untuk menggantinya dengan sandal, mengingat ada sedikti genangan air menuju Sekretariat. Memasuki Sekretarait kami langsung disuguhi teh panas dan gorengan, saat mencicipi teh ada cita rasa yang berbeda setelah sampai dilidah, rasa jahe yang cukup dominan sangat pas untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan.
Kedatangan kami rupanya juga bertepatan dengan penutupan ospek di UNMUHA, rekan lensa mengajak kami ke halaman keluar, melihat acara yang dipenuhi sorak sorai mahasiswa baru. penutupan itu dihadiri langsung pembantu rektor III UNMUHA Teku Muflizar, S.H, M.Hum, yang kemudian menyampaikan ucapan selamat datang kepada kami di sebuah lokal perkuliahan. Selanjutnya kami kembali ke sekretartiat Lensa, melanjutkan sesi perkenalan yang sempat tertunda.
Setelah lama bercerita serta perkenalan kami semua jeda sejenak ketika Magrib datang menjelang, kami melaksanakan shalat berjamaah di masjid yang tidak jauh dari sekretariat, siap shalat kami pun kembali bercerita panjang lebar lalu kembali lagi ke sekretariat, sambutan hangat rekan-rekan Lensa semakin terasa ketika mereka mengajak kami untuk ngopi di salah satu tempat Favorit muda mudi di Banda Aceh, kedai kopi itu bernama Ulle Lheue, cengkrama dan saling berbagi cerita terasa lebih nyaman disana. Selain tempatnya yang nyaman, pengunjung juga dapat menikmati Free Wifi.
Menjelang tengah malam kami yang laki laki kembali lagi ke Sekretariat untuk beristirahat, sedangkan bagi kru perempuan menginap di rumah salah seorang kru Lensa. Rasa lelah mulai menyerang kami semua, namun sebelum tidur kami sempat di suguhkan manisan pala Aceh, cukup aneh rasanya di lidah pemakan rendang, aku pribadi menyebutnya kurma Aceh, mungkin karena bentuknya, atau rasanya khas yang tidak dapat ku gambarkan dalam tulisan ini.
Keesokan harinya, senin (12/9) sekitar pukul 09.00 pagi, kami semua (kami dan Lensa) bersiap memulai agenda padat mengunjungi beberapa media cetak dan online yang berada di banda aceh, semua telah dijadwalkan dengan sangat baik oleh rekan-rekan Lensa. Media pertama yang menjadi tujuan kami adalah Harian Aceh di Jalan T. Iskandar No.54/56 Banda Aceh. Disana kami menggali ilmu mengenai manajemen di keredaksian dan bagian usaha, berbagai pertanyaan terlontar, “bagian redaksi dan usaha pada sebuah media harus berjalan beriringan” ungkap pimpinan usahanya menjawab salah satu pertanyaan kami.
Selanjutnya kami meninggalkan Harian Aceh menuju media lainnya yaitu rakyat aceh dengan Koran kriminalnya Metro aceh. saat kami berkunjung kantor mereka sedang sepi, hanya ada satu wartawan yang menyambut kedatangan kami, meski begitu kami tetap berusaha menggali informasi dan Ilmu Ilmu Jurnalistik yang ada pada beliau. Setelah puas bertanya kami kembali ke sekretariat Lensa untuk istirahat sejenak. Lalu melangkahkan kaki lagi menuju media selanjutnya, kali ini kami menyambangi media terbesar di kota itu, gedung yang cukup megah dan area yang luas menjadi tempat bermukimnya Serambi Indonesia. Dari segi fasiltas mereka jauh lebih baik, mulai dari ruang redaksi, ruang rapat dan tempat percetakan yang mereka miliki sendiri.
Di serambi kami bertemu langsung dengan pimpinannya, beliau bercerita bayak, mulai dari manjemen pers, pengembangan media informasi serambi lainnya yang telah lama mengudara, terakhir ia bercerita cukup panjang mengenai komitmen serambi dalam menyampaikan berita selama masa konflik, lengkap dengan berbagai suka dan duka yang dialami. Setelah semua tanya jawab dan diskusi selesai di ruang rapat, salah seorang kru wanita senior yang dimiliki serambi mengajak kami untuk melihat proses percetakan.
Belum selesai sampai di serambi saja, bus kembali berjalan dipandu rekan rekan Lensa menuju Atjeh Post, ini merupakan salah satu media online dengan Rating terbaik di Aceh, disana kami mencoba mencuri sedikit ilmu untuk bisa menaikan pamor web.id kami. Karena seiring perkembangan zaman, media online dianggap sebagai media informasi yang akan booming di beberapa tahun kedepan.
Dari atjeh Post kami bersiap mengunjungi LPM lainnya, bus kali ini mengarah ke Universitas Siyah Kuala, kami yakin akan ada yang berbeda dengan LPM disana, saat memasuki gerbang kampus “nakama” mulai terkagum akan interior bangunannya, dari lantai dua sebuah gedung Student Center, tampak lambaian tangan sekolompok orang yang memakai baju mirip dengan yang kami (kru) pakai. Ya, mereka adalah rekan rekan LPM Detak yang telah menunggu kedatangan kami. Pimpinan umum Lensa mengantrakan kami lansung menemui rekan-rekan di Detak, selanjutnya rekan Lensa pun pamit pulang.
Sesampai di Detak, mereka (kru Detak) mengajak kami semua menuju kantor redaksi tabloid Detak di Lantai 2 gedung Student Center, hanya beberapa saat saja, kami kembali turun menuju tempat yang lebih luas di lantai 1 gedung tersebut, disana kami juga di suguhi minuman dan gorengan. Sesi perkenalan kembali mengawali kunjungan kali ini, tidak lupa canda tawa yang sesekali menghiasi perbincangan kami dengan Kru Detak. Sama seperti di Lensa, kami saling berbagi ilmu dan pengalaman di kancah jurnalis kampus, bahasan mengenai keadaan jurnalis saat konflik, tsunami, serta berbagai perjuangan yang mereka lakukan terhadap pihak rektorat untuk menerbitkan sebuah tabloid menjadi bahasan wajib bagi kami, baik itu saat berada di Detak maupun di Lensa.
Malam menjelang, kami langsung tidur karena esok pagi agenda padat telah menunggu. selasa (13/9) pukul 07.00 pagi Kawan kawan Detak telah mengatur semuanya, dimulai dari berjalan jalan keliling kampus di pagi hari yang kemudian dilanjutkan dengan mengujungi MJC (Muharram Jurnalism College). MJC merupakan satu satunya “kampus” jurnalistik di aceh yang digagas langsung oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independent) banda aceh. disana kami di sambut langsung oleh Rektor MJC, bersama beliau kami merasa sesuatu yang berbeda, konsep konsep idealis yang ia jelaskan terasa begitu dekat dengan realita yang kami hadapi, kami pun berlomba mendapatkan sesuatu dari beliau, pertanyaan demi pertanyaan yang kami ajukan selalu menghasilkan jawaban memuaskan.
Akhirnya, Setelah disibukan oleh berbagai kegiatan diskusi tanya jawab dengan berbagai jurnalis, tiba lah saat yang paling kami tunggu yaitu mengunjuingi tempat tempat bersejarah di Banda Aceh, museum tsunami menjadi lokasi yang sayang untuk di lewatkan, kumpulan benda sebagai saksi keganasan Tsunami dapat kami temui di sana, dan yang paling mengagumkan adalah arsitektur bangunan Rumoh Aceh Escape Hill ini yang terlihat menyerupai sebuah kapal besar, kami tidak sabar untuk masuk dan melihat apa yang ada dia dalamnya.
Lorong Tsunami merupakan pintu masuk pertama yang harus dilalui, kami sempat merinding melewatinya, selain gelap, lorong tersebut juga dialiri air pada kedua dinding dan suara suara percikan air yang semakin menambah suasana mencekam. Di ujung lorong terdapat ruangan sumur do’a, lampu bercahaya remang menerangi 1000 nama korban tsunami didalam sumur, pada bagian atas sumur terdapat tulisan arab “Allah” yang mengandung makna kalau semua akan kembali kepada Nya. Keluar dari sumur do’a, kami melanjutkan perjalanan menuju lantai 2 dan lantai 3, memasuki ruangan demi ruangan, melihat foto dan video (dokumentasi), repilka, buku, dan mendengar penjelasan dari pemandu, kemudian mengabadikannya kedalam sebuah foto .
Bus “Presiden” melaju lagi, kali ini kami menuju PLTD Apung. “Kapal Apung”, begitu penduduk sana menyebutnya, kapal dengan berat 2.600 ton ini terseret gelombang Tsunami menuju daratan hingga ±4 KM, sebuah kapal besar yang telah menjadi situs sejarah keganasan Tsunami. Saat kami tiba disana terdengar suara azan dari atas kapal. ya, azan zuhur. “Apakah ini telah menjadi masjid?” Tanya ku pada salah seorang kru Detak, “o tidak, suara azan itu dari masjid sebelah”, ternyata pengeras suara saja yang sengaja di letakan di atas kapal, tujuannya tentu agar kumandang azan menjangkau daerah yang lebih luas. inilah negeri Darussalam, pikirku.
Tidak lengkap rasanya jika ke Aceh kalau tidak mengunjungi sekaligus beribadah di Masjid baiturrahman, Icon-nya serambi mekah. Kami semua berniat menuniakan shalat zuhur disana, namun sebelum masuk kedalam pekarang masjid, semua pengunjung diwajibkan mengenakan busana muslim, baik itu pria maupun wanita. Setalah selesai shalat, rekan dari Lensa telah hadir kembali di tengah kami. Kami (nakama) merasa sangat special saja, ketika 2 LPM di Banda Aceh memperlakuan kami dengan sangat baik, kami merasa berhutang akan hal itu, dan berharap bisa membalasnya pada saatnya nanti. Seperti tak mau kehilangan moment, kami abadikan saja ke 3 LPM itu kedalam “kamera”, semua berbaris rapi dengan latar belakang majid baiturrahman.
Memasuki pukul 04.00 sore, tibalah saat kami untuk kembali ke Padang, Setelah sebelumnya menyempatkan diri berburu oleh-oleh khas aceh ditoko sekitaran masjid. kami pun saling berpamitan, bertukar nomor HP, alamat email, sampai pada akhirnya kami melambaikan tangan dari dalam bus. Membungkus pengalaman dalam lembaran catatan, untuk ditulis, diceritakan kembali sabagai pembelajaran. Sebab, ada semangat dan “sesuatu” disana yang perlu kami contoh. terima kasih banyak.
Salam Persma.
0 komentar:
Posting Komentar